Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

31 Mei 2012

Pemberontakan Ala Boombox Monger


Homicide
Saya mencintai musik lebih banyak daripada buku. Saya memang lahir di kalangan pemusik. Keluarga pemusik. Kala itu ayah masih dengan bangganya mempertahankan jazz fusion dari permainan gitarnya. Sedangkan saya lebih memilih jalan grunge underground ketika menjadi gitaris dan drummer sebuah band indie.


Saya mencintai musik sampai saya skeptis dan bisa saja jadi memarahi orang jika ada yang tak sependapat. Teman saya sering mengatakan itu. Katanya saya skeptis, apalagi jika sudah menyangkut musik dan buku. Entah kalau disandingkan dengan orang skeptis lainnya, mungkin saya bisa saja kalah. Tapi kalau sudah ada yang membantah saya, saya lebih banyak tak mau terima.

Musik saya tak berhenti di situ-situ saja. Berbagai jenis musik yang kuat dari segi lirik juga, sering saya bahas bersama beberapa teman pemusik di komunitas saya. Dan dalam kurun beberapa tahun terakhir -di samping membahas Efek Rumah Kaca- saya malah membahas salah satu grup musik yang sekarang ini sudah tak lagi tampil. Sudah vakum total. Sayang sekali padahal. Dan mungkin, kalau kalian mendengarkannya juga, kalian akan terkesima. Musik ini mengusung tema pemberontakan, sebuah orasi besar-besaran untuk menantang tirani. Musik ini membawa kita pada era tahun 90-an ketika musik alternatif yang tergerus hip-hop masih mendunia. Musik ini adalah pemberontakan ala boombox monger.

***

Mendengar boombox kita pasti ingat akan sebuah kotak besar yang dibawa musisi hip-hop kemanapun. Sebuah kotak musik yang bisa meledakkan apa saja dan membuat semua orang berjoget. Di jalanan, di pelataran gedung yang kapitalis, dan di depan tempat-tempat praktik kemaksiatan yang bisa dihancurkan begitu saja. Dan oleh grup musik satu ini, boombox menjadi kekuatan terbesar, di samping lirik-lirik yang sarat akan realisme sosial. Oh ya, saya belum menyebutkan nama grupnya sedari tadi. Kira-kira ada yang tahu tidak? Ada yang bisa menebak atau tidak?

Namanya Homicide. Grup musik ini digawangi oleh Ucok yang rajin sekali menulis catatan harian bak Soe Hok Gie, dan rajin sekali membaca buku-buku Salman Rushdie. Orangnya sangat kiri dan bawah tanah sekali. Pada masa Orde Baru, mungkin grup musik ini satu-satunya yang tidak diketahui, meskipun liriknya menyorot penguasa tiran pada masa itu.

Beberapa lagunya memang mengandung lirik yang sangat sulit dipikirkan oleh manusia pada umumnya, karena memang lebih menyerempet pada keindahan sastra yang dibalut realita. Seperti membaca jurnalisme sastrawi, mungkin seperti inilah kiranya gambaran dari Homicide.

Skeptisisme saya lahir dari mereka. Tak jarang saya jadi termotivasi juga untuk melakukan berbagai pemberontakan. Saya hanya bisa sampai berdemo saja, tidak benar-benar sampai memberi surat kaleng pada penguasa. Dan saya rasa Ucok sudah sampai tahap surat kaleng itu. Maka dari itulah, saya menelan bulat-bulat apa yang Ucok sebutkan dalam tiap lagu, karena memang benar begitu adanya. Tak perlu ada yang takut termanipulasi, karena Ucok melahirkan realita di dalam musiknya.

Soal musik, mungkin tak banyak yang bisa didapatkan masyarakat awam. Musik Homicide hanya terpaku pada beatbox dari mulut sendiri, dee-jay yang memutar-mutar piringan raksasa, dan hanya sebuah orasi kata-kata dalam bit seorang rapper. Itu saja. Tak ada gitar, tak ada melodi-melodi menyayat hati, dan tak ada dinamika. Dinamika lebih ditekankan dari permainan kata-kata Ucok dan orasi Ucok yang sangat membara.

Saya senang ketika mendengar ini. Ucok seperti membawa kita untuk ikut berteriak-teriak di tengah khalayak. Padahal, Ucok adalah pemusik, bukan orator seperti Bung Karno.

Yang membuat saya tak habis pikir, kenapa saya jadi mau-maunya mencari istilah-istilah asing dari lagu-lagu Ucok? Sepertinya saya sudah semakin gila saja akan keampuhan lirik Homicide dalam menantang tirani. Terlebih lagi, lagu-lagunya seperti Sajak Suara, Siti Djenar Chyperdrive, Barisan Nisan, Tantang Tirani, dan lagu-lagu lain telah mengawang-awang di pangkal pikiran saya. Seperti hendak meledak dan terus menyeruak dan berteriak. Lagu-lagu ini membuat saya bangkit berdiri dan harus menyadari akan satu hal yang tak mungkin lekang dari pemerintahan kita, sebuah feodalisme yang melekat.

Kita sudah dibentuk sedari kecil dengan mental feodal, dimana kita akan terus menjadi yang tersisih dari pemerintahan yang tiran. Mental ini pun sempat dibahas ketika seminar Reformasi Birokrasi yang sempat digelar pada 26 Mei lalu. Kala itu, saya hanya bisa tersenyum sinis menanggapi semuanya sambil berkata, “Cih! Memang busuk sekali doktrin reformasi birokrasi seperti ini!”

Sambil terus memegang teguh jiwa pemberontakan ala Homicide dan membuang jauh-jauh mental feodal, saya katakan bahwa saya ini termasuk orang yang sedemikian skeptis. Tak mengapa jika nantinya semua sifat saya ini akan runtuh seiring waktu. Yang jelas, selagi muda, saya akan menendang jauh mental feodal dalam diri agar tak melulu bisa dikalahkan oleh tingkatan-tingkatan sosial yang kadang membuat manusia terpecah belah.

Sebagai rakyat Indonesia, saya merasa satu dan saya merasa harus bersuara. Sebentuk sajak suara ini mungkin jadi jawabannya.

Sajak Suara - Homicide
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!

sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan


Bagaimanapun, meski Ucok dan Homicide berhenti berontak, saya tetap akan berteriak. Saya akan tetap begini dan skeptis seperti ini. Jiwa anak muda memang harusnya begini bukan? Saya pun tak akan rela jika harus berlama-lama menerima pahitnya tata cara “mereka” memerintah Indonesia. Ah entahlah, saya rasa konsumsi buku saya sudah kelewat batas.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ingin ikut berkontribusi sumbang tulisan? Baca halaman Undangan Berkontribusi"
Ikuti kami di twitter @anggurtorelli, dan halaman facebook Anggur Torelli

27 Mei 2012

Di Bawah Asuhan Iwan Fals



Time: Iwan Fals pahlawan Asia
Sejak tren gitar masuk desa menginvasi kampung saya, perubahan dialami bocah-bocah beranjak remaja. Mereka ogah aktivitas bertemu teman disebut “bermain”. Sebagai ganti istilah ”nongkrong” diajukan. Dan perkumpulan baru sah disebut nongkrong kalau sudah melibatkan gitar. Saat itu pertengahan era 1990-an. Saya larut dalam gelombang tersebut.

Bocah-bocah yang dulu mengidolakan Susan dan Ria Enes, mendadak goyah pendirian. Sosok boneka bersuara cempreng yang berduet dengan seorang perempuan dewasa tak lagi dianggap mewakili. Serentak pergulatan massal para remaja senewen mencari idola baru terjadi.

Entah tersebab kekuatan apa, seorang pria gondrong keriwil dan hobi bertelanjang dada di panggung, ramai-ramai dielu-elukan. Dari tongkrongan ke tongkrongan, merk, warna, bentuk dan kualitas gitar boleh tak sama, tapi lagunya tetap Iwan Fals belaka. Keputusan ini bersifat nyaris aklamasi meski tak lewat rapat atau pemungutan suara. Seorang dua tentu ada yang coba-coba mencari idola di jalur kasidah atau dangdut. Tapi jumlahnya tak seberapa

Tanpa katrolan gosip, juga sonder iklan, popularitas Iwan Fals secara ajaib berkibar seantero kampung. Kaset-kasetnya laku keras, asli maupun bajakan. Posternya menghias kamar demi kamar. Foto sang idola menyeludup ke dompet-dompet. Syair-syair lagunya dikutip dalam coretan-coretan di tembok umum. Gerakan ini tak didorong mesin politik manapun. Hingga kini juga tak ada bukti gejala ini bagian dari rekayasa Freemason, pemuja iblis, apalagi sokongan dana Amerika.

Para remaja tersebut mestilah berpikir Ujung Aspal Pondok Gede bercerita tentang desa mereka. Saban malam mereka nyanyikan, “…di jalanan kami sandarkan cita-cita”, sembari memandang satu dua kendaraan lewat. Sore, ketika bermain bola di lapangan-lapangan darurat, lagu Mereka Ada di Jalan mengiang-ngiang di kepala. Ada juga yang diam-diam mulai kepingin meminjam buku seorang gadis, buat menulis sajak indah.

Ada sebuah lagu Iwan Fals tentang liburan keluarga miskin. Tokohnya lelaki yang menunggu anak istri bersiap jelang berangkat. Iwan Fals menyebut mereka “kaum kusam”. Maka seperti filosof Jean Paul Sartre melakukan “bunuh diri kelas” dan melebur jiwa bersama kaum buruh, remaja di kampung saya berbodong-bondong menyebut diri sebagai bagian dari kaum kusam.

Boleh jadi mereka menganggap Iwan Fals tak banyak beda dengan para nabi, sekurang-kurangnya kiai. Pembawa kabar hal-hal yang belum pernah mereka dengar. Barangkali sebelum Al Gore koar-koar kesana kemari, mereka sudah lebih dulu khawatir dengan pohon-pohon yang ditumbangkan. Tanpa membaca koran, mereka tahu negara dikalahkan korupsi dan ketidakadilan. Ini tanggung jawab Iwan Fals sepenuhnya.

Sekitar tahun 1998, ibukota dihujani demonstrasi. Para remaja kampung saya sama sekali tak paham artinya. Betapapun urakannya mereka, perilaku berteriak-teriak membawa spanduk sambil menantang polisi dan tentara, memblokir jalan dengan membakar ban, bukanlah hal yang berani mereka bayangkan. Tapi protes-protes para demonstran kelihatannya nyambung dengan lagu-lagu sang idola. Maka mereka sepakat saja, meski tak ikut berpeluh.


***

Di awal periode saya kuliah, Iwan Fals menyiarkan album baru, Suara Hati. Kualitasnya anjlok dibanding yang sudah-sudah, baik diteropong dari segi musikal maupun syair. Tapi penggemar orang ini tak ada surut-surutnya.

Kampus saya waktu itu punya delapan fakultas, terbagi di dua tempat. Keduanya dipisah jarak sekitar 30 menit berjalan santai. Tapi jarak tak jadi halangan bagi saya mengoleksi teman di tiap fakultas dan titik sosial lainnya. Bergonta-ganti tempat nongkrong di tiap fakultas bukan hal aneh buat saya. Bahkan ikut kelas perkuliahannya.

Karya Iwan Fals kala itu tak ubahnya tiket terusan bagi saya. Memudahkan untuk masuk di berbagai komunitas. Mereka yang tak cukup perbendaharaan lagu Bang Iwan di ingatannya bakal keki habis-habisan. Tak jarang seorang atau dua sampai menyelongkar koleksi toko-toko kaset buat memerbaiki referensi.

Namun hanya karena dua orang temanlah, Asep Sofyan dan Abdullah Alawi, pandangan saya terhadap Iwan Fals meluas. Mereka adalah pecandu sastra kelas berat dan penulis hebat. Paham seluk-beluk susastra negeri ini. Lewat koleksi buku mereka yang diam-diam saya teroka, tak jarang lewat menguping pembicaraan, saya mencicil pelajaran sastra.

Asep mengajari saya apa itu puisi. Apa bedanya dengan coretan para remaja yang mengungkapkan gundah hati pada halaman terakhir buku, di sela jam pelajaran. Bagaimana melihat kalimat Sapardi, “Mei, bulan kita itu, belum ditinggalkan penghujan,” sebagai kalimat langsing tapi padat berisi.

Dari Alawi, penulis Persekongkolan Steinbeck dan Paisano Tortilla, saya dibekali pengetahuan soal kalimat-kalimat realis yang bercahaya. Kesederhanaan yang dipenuhi berkah buat para pembaca. John Steinbeck, Ahmad Tohari dan Mahbub Djunaidi, selalu menulis dengan cara yang ringan, tapi mampu membuat imajinasi pembaca keluyuran ke mana-mana.

Sejak itu, bagi saya Iwan Fals bukan sekadar lelaki gondrong yang sinis, tukang protes segala hal yang lewat di depan mata dan ingatannya. Ia salah satu penulis puisi-puisi paling indah. Pernah saya sesunggukan sehabis mendengar lagu Aku di Sini.

Iwan Fals juga ikut meloloskan bahasa Indonesia dari perangkap birokrasi yang bertele-tele. Model bahasanya tak ditemukan di program rutin TVRI, Dunia Dalam Berita, juga dalam seminar-seminar yang judulnya panjang dan sukar dicerna.

Kata-kata yang disampaikan Iwan Fals adalah metafora yang mewakili pengalaman hidup banyak orang. Siapa tak paham maksud dari “tikus kantor” dan “Guru Oemar Bakrie”? Seperti Chairil Anwar, syair-syairnya menjadi milik bersama. Karya-karyanya menjadi cermin kondisi bangsa. Inilah setinggi-tingginya puisi!

Ketika industri musik tanah air mulai mengalami gegar otak, banyak penikmat musik terbawa gelombang tren. Tapi Bang Iwan tak henti-hentinya menginspirasi banyak orang. Saya dan teman-teman yang tumbuh bersama lagu-lagu Iwan Fals, mana tahan mendengar lagu-lagu model begituan.

Sampai kini, berkat pergaulan, selera musik saya kian beragam. Apalagi sekarang banyak juga musikus-musikus kita yang punya kualitas bagus, meski kurang disukai pemilik televisi. Sedikit-sedikit ada juga karya musikus luar negeri yang mampir ke telinga. Namun saban mendengar lagu-lagu Iwan Fals, saya merasa pulang.

Sebetulnya saya selalu berharap lagu-lagu Iwan Fals yang penuh kritik dan satir baiknya masuk museum saja. Sesekali diputar lagi sekadar buat mengingat masa lalu. Tapi saban diputar, lagu-lagunya seperti baru diciptakan hari ini. Diciptakan untuk hari ini.





"Ingin ikut berkontribusi sumbang tulisan? Baca halaman Undangan Berkontribusi"
Ikuti kami di twitter @anggurtorelli, dan halaman facebook Anggur Torelli

25 Mei 2012

Gelora Kata dan Realita Dalam Musik



Grup musik Efek Rumah Kaca
Berapa banyak musik yang menginspirasi? Berapa banyak lirik yang mencerminkan jati diri? Berapa banyak lagu yang bisa mengena di hati sampai berhari-hari bahkan bertahun-tahun lamanya? Saya rasa, untuk tipikal musik seperti itu, dewasa ini sudah tak ada. Saya agak muak dan mual dengan kondisi industri musik seperti ini di Indonesia. Entah kapan kelatahan musik segera berhenti. Saya rasa, musik-musik berlabel mayor sudah tak lagi mengerti apa hakikat musik. Tak ada lagi idealisme yang tertanam dan itu semua demi mengejar satu kata, uang atau terkenal.

19 Mei 2012

Membuka Daun Telinga lewat “Tortilla Flat”

Oleh:  Alhafiz Kurniawan *
Tortilla Flat


Kalau saudara punya niat membaca Tortilla Flat, novel karya John Steinbeck, saya sarankan untuk siapkan diri lahir dan batin. Tegasnya, sebelum membuka helai demi helai karya ini, saya punya usul agar saudara menyingkirkan jauh-jauh barang-barang mudah pecah apalagi pemberian kekasih, anak kecil, atau gelas yang berisi air.

Saya tidak mau turut menanggung kalau kucing peliharaan akan tersepak dua meter dari jangkauan lantaran saudara tertawa geli minta ampun. Milik saudara atau tetangga, kucing peliharaan harus tetap terpelihara. Mungkin peliharaan saudara akan bingung apa pasal majikannya atau tetangga majikan begitu riang sampai lalai pada binatang manja. Pindahkan jemuran kering atau setengah kering ke tempat teduh bilamana saudara memanggangnya dalam dekapan matahari. Kalau malam hari, sebaiknya saudara tutup yang mesti ditutup. Ini berlaku pada apa saja. Jendela mesti rapat. Satu ini penting, salah-salah buatan, tetangga sebelah yang tengah sakit gigi tidak segan-segan melempar gelas ke dalam kamar saudara. 

Dua kali sudah saya membaca Tortilla Flat, novel John Steinbeck. Ia berkisah tentang sekawan yang tergabung dalam pelbagai pengalaman keseharian. Mereka memahami kehidupan secara ringan, tanpa beban membandul di kepala. Butuh kelapangan dada yang meng-ablak untuk membaca karya ini. Negative capability, kata orang-orang sastra. Daya menanggalkan nilai sejenak yang melekat dalam diri agar harga diri saudara yang paling berharga itu tidak menjadi taruhan murah kala membaca.

Tanpa kearifan tinggi, saudara akan geram melihat tingkah konyol tapi bersahaja kawanan berandal Monterey. Meski menahan geram, pihak pembaca novel ini tentu kadang akan terpancing untuk tergelak. Bayangkan saja, bagaimana bisa kawanan ini menyanyikan lagu gembira untuk kematian Danny, kawan dekat mereka melebihi kedekatan ombak dengan gelisahnya. Lagu sedih sempat tercetus, tetapi mengingat Danny lebih menyukai lagu gembira kala hidupnya, kawanan menggemaskan ini menyanyikan lagu gembira dengan semangat untuk merayakan masa berkabung.

Dalam kesehariannya, mereka hampir selalu menawarkan logika di luar nilai yang dipeluk kebanyakan orang baik erat atau setengah longgar. Akal, tipu daya, kegelisahan, saran kawan-kawan, perkelahian tanpa alasan serius, nasionalisme yang tumbuh seiring tegukan anggur, pencurian potongan daging babi atau roti, bujukan halus tanpa ampun, pujian menipu, makian telak, mengisi catatan harian kawanan ini.

Dari Tortilla Flat, saya mengingat kembali karya-karya lain yang memiliki jiwa kurang lebih mirip. Alhikam karya Ibnu Athaillah misalnya. Saya mengaji kitab ini lewat dua kiai maha hebat di Jakarta. Satu terkenal dan sudah meninggal, dan satu tidak mau dikenal selagi masih hidup. Keduanya sama dahsyat. Alhikam kerap membuat logika saya menungging tersungkur telak. Bagaimana mungkin ‘sebut Tuhan lebih besar’ yang kerap dipahami bahwa zikir manusia menyebut nama Tuhannya sebagai perkara luar biasa, dibalik menjadi zikir-Nya menyebut nama hamba-Nya justru perkara luar biasa? Lepas hamba-Nya menunduk dengan ketentuan syariat atau tidak.

Pemahaman seperti ini bukan saja perkara sulit bagi saya. Ini juga dapat menyentak amarah kebanyakan orang. Berhubung kebanyakan orang lagi demam zikir. Bahkan, mereka melembagakannya dalam mejelis-majelis yang belakangan tumbuh banyak laiknya dealer-dealer motor Jepang. Pasal banyaknya dealer, bukan urusan saya. Tetapi kalau Alhikam dengan caranya demikian membuat mereka marah, saya harus menarik siapa untuk bertanggung jawab?

Cara memahami seperti ini saya pikir cukup ajaib mengingat jarang terpikir oleh kebanyakan orang. Bagaimana mungkin Tuhan mau menyebut nama hamba-Nya? Tetapi kalau Dia mau, apa hak saya untuk keberatan. Saya pikir-pikir, biar sajalah, itu maunya Dia kok. Namun logika semacam ini sudah saya terima dengan kedua tangan jauh-jauh tahun sebelum membaca Tortilla Flat.

Grup musik Led Zeppelin
Adapun yang baru adalah daun pintu telinga saya yang sontak dobrak terhadap musik klasik rock Barat era 1960-1970-an. Entah malaikat ganas apa yang mengirimkan guntur menyambar, benak saya langsung tertarik ke masa sekolah MTs silam. Saat sekolah di tingkat itu, saya bergaul bebas dengan kawan-kawan yang 15-20 tahun di atas saya. Selera mereka selain Iwan Fals, adalah klasik rock Barat. Dari mereka saya menelan dengan sedikit mengunyah The Beatles, Rolling Stone, Led Zeppelin, Deep Purple, Queen, Janis Joplin, Eric Clapton, Elton John, Aerosmith, Genesis dan sederetan musisi Barat lainnya.

Semua musik itu bisa saya dengar dengan cara mudah. Tekan kenop radio, geser gelombang untuk meraba 97.FM, stasiun radio yang murah hati memutar lagu-lagu klasik rock. Sejak 1998, saya tekun duduk di depan radio kadang sambil membawa sepiring nasi untuk makan malam. Dari semua musik yang masuk ke lubang kuping, saya mengidolakan The Beatles dan Rolling Stones. Dengan mengencangkan ban pinggang, saya menabung. Bukan atas anjuran guru atau orang tua, pula bukan untuk masa depan. Recehan yang masuk dari segala sumber, saya belanjakan untuk mengoleksi album kedua band itu.

Saat itu belum lagi ada yang namanya digital, jadi album masih dalam bentuk kaset pita. Hampir semua album kedua band raksasa itu, saya miliki. Namun begitu, selera musik saya lebih hampir kepada Rolling Stones. Band satu ini memiliki keunikan sendiri. Saya merasa masa kejayaan bermusiknya saat grup dengan vokalis bibir jebleh, Mick Jagger, masih didukung oleh Brian Jones. Ia musisi serba bisa, sanggup bermain gitar, sitar, gamelan, saksofon, harmonika dan sejumlah kepiawaian alat musik yang aneh-aneh.

Herannya, kuping ini belum bisa menerima permainan musik Led Zeppelin. Bagi saya Led Zeppelin, tak lebih dari aktor subversif yang mengacaukan irama musik belaka saat itu. Namun, usai membaca Tortilla Flat tahun lalu, telinga saya meng-gesrak-gesrak lagi dokumen musik Led Zeppelin. Sebelum mendengar ulang, logika dan perasaan saya sudah merengkuhnya. Ternyata, novel itu mengubah arah kompas penerimaan saya atas suguhan permainan Robert Plant, dan kawan-kawan. Bagaimana bisa seorang Jimmy Page membunyikan gitarnya dengan gesekan biola? Ia dengan gitar ampuhnya, kerap membuat kejutan-kejutan di luar terkaan.

Tetapi nasib sial menimpa saya laksana anak kucing tercebur di tubir telaga. Stasiun 97.FM yang tekun mengudarakan musik klasik rock, sudah mendarat. Entah mendarat di mana atau melampaui udara sehingga tidak lagi kedengaran dengusnya, saya tidak paham. Seingat saya, radio ini masih ingar-bingar saat saya duduk di bangku SMK tahun 2003. Berhubung kesibukan bertambah, saya tidak lagi mengikuti jejaknya sejak itu.

Meskipun kini saya tidak lagi dapat menikmati Led Zeppelin dari stasiun tersebut, itu tidak menjadi soal berat. Yang mau saya katakan, berandal Tortilla; Danny dan kawanannya, diam-diam menyelundupkan Led Zeppelin ke telinga saya. Saya yakin mereka menyelundupkannya tanpa izin, arahan, apalagi instruksi dari John Steinbeck, sang pengarang.

Ciputat, Sabtu, 6.21, 19 Mei 2012

* Pelahap apa saja


"Ingin ikut berkontribusi? Kirim tulisan anda ke surel: anggurtorelli[at]gmail[dot]com"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...